Posted in Cerpen

Cerpen: Mencari Surga untuk Ibu

Cerpen: Mencari Surga untuk Ibu
Oleh: Dita Tri Maharani

cerpen/blokBojonegoro
cerpen/blokBojonegoro

SEMILIR angin malam menjadi saksi kebisuanku dalam keheningan malam ketika aku harus menangis karena teringat hari itu aku harus menghadap pada ibu. Di tengah perjalanan, aku selalu menghawatirkan wanita tua yang telah kukenal selama tiga puluh tahun.

Kini usianya sudah lampau, dari keriputnya dapat kupastikan ibu sudah tidak akan berlama-lama denganku lagi. Aku harus segera pulang, tak mungkin ibu harus menungguku dengan rasa penuh khawatir akan nasibku yang tak jelas ini. Akan ku percepat langkahku, menyasaki duri semak di sepanjang jalan menuju gubuk reyotku.

Kulihat malam mulai menepati janjinya untuk menampakkan rembulan saat ini. Terima kasih pada Nya telah membawaku pada hidup penuh kasih sayang ini, sekalipun dengan segala yang menyiksaku. Kutahu itu petanda kasih sayang Allah. Lewat segala pesakitan ini, Allah bertitah kepadaku melalui rumput di sepanjang perjalananku ini, lewat sengat angin yang menusuk. Dan samar kuperhatikan dari kejauhan gubuk bambu yang masih nekat berdiri sekalipun tiangnya telah rapuh.

“Kau ini keras kepala wahai gubuk tua, kalau kau sudah tidak mampu berdiri, roboh sajalah,” gumamku sendirian seperti orang gila. Mana mungkin gubuk itu akan menjawab pertanyaanku. Aku memandangi gubuk itu seakan-akan gubuk itu berkata bahwa mana mungkin akan roboh sementara di bawah atapnya itu terbujur wanita renta yang juga tidak mampu lagi menghela udara ini dengan penuh kebebasan. Bayang-bayang kematian telah terpampang di gubuk ini. Saat aku mulai tersadar akan lamunan, ”Ya Allah!”.

Aku melangkah membuka gubuk ini, dan masih tanpa suara apapun, menuju ranjang kayu pinus dimana surgaku berada. Mungkinkah surgaku tidur? atau telah tiada? Hanya suara nafasnya yang kudengar. Alhamdulillah! surgaku masih ada.

“Kau pulang nak?” Suara itu berkata kepadaku lagi.

“Maafkan Ibnu bu, Ibnu belum bisa mencari surga untuk Ibu”.

“Selalu dengan ucapan itu! Ibnu anakku, kau tak perlu mencari surga untuk ibu sementara surgamu sendiri belum kau capai”.

“Tidak Ibu. Ibulah surgaku. aku telah mendapatkanya dari Ibu”

“Ibnu kau bukan bocah lagi sayang. Sudah saatnya kau temukan surgamu yang baru! carilah segera istrimu, anakku”.

“Mana mungkin Bu aku akan memperhatikan wanita lain sedangkan satu-satunya yang ingin kubakti hannyalah engkau Bu”.

“Jalanilah hidupnu nak, dan Ibu pula akan menjalani bagian Ibu. Kelak kita akan temukan surga kita masing-masing!” ucap wanita mulia itu seraya membelai pipiku ini. Matanya pun tak kuasa menangis, begitupun pula denganku. Aku mendekap tanganya erat-erat dan suasana berubah menjadi hening!

“Ibu,begitu beruntungnya mereka yang telah berhasil mencapai surga bahkan jauh sebelum menghadap Nya”.

“Benarkah anakku? Dengan apa mereka mencari surga itu?”.

“Tentu saja dengan segala apa yang mereka miliki bu. Masjid-masjid dan anak yatim itu buktinya, sedangkan Ibu tidak punya apa-apa untuk menyiapkan surga”.

Plaaakkk….!!!. Tangan yang semula membelai pipi itu seketika berubah menjadi suatu tamparan yang suaranya memecah keheningan.”

“Ibnu anakku kau tak ada bedanya dengan anak kecil. Apa yang harus kukatakan kepada Allah jika Ia tahu aku tidak bisa mendidik titipanya yang semacam kau ini,” kata ibu marah.

“Katakan saja kepada Allah bahwa aku ini masih kecil dan butuh bimbingan Ibu, supaya Allah mau mengizinkan Ibu berlama-lama di sini”.

“Justru ucapanmu itulah yang membuat Ibumu ini semakin jauh dengan surga anakku. Jadilah anak baik agar aku tenang di hadapan Nya”.

Akupun menagis lagi tak kuasa mendengar perkataan ibu itu. Berat rasa jika suatu saat aku harus melepas ibuku yang begitu ku sayangi itu.

“Baiklah Ibu, tak perlu engkau khawatirkan aku. Akan aku katakan kepada Allah bahwa ibu benar-benar telah menyanyangi aku. Akan kukirimkan segala yang ibu butuhkan dan ku pastikan bahwa ibu akan menemukan surga di sana”.

“Tak kuasa nak jika ibu harus meninggalkanmu sendirian”.

“Tak apa bu! Asalkan ibu menemukan surga. Dan katakan pada Allah bu. Tolong turunkan Ibu kembali melalui mereka kepada perempuan lain yang kelak bisa menjadi istriku.” Mendengar ucapanku itu ibu tersenyum kecil.

“Apa kau sudah menemukanya?”. Aku menggeleng saja.

“Mana mungkin mereka mau dengan semua ini selain harta dan kekayaan yang melimpah ruah. Aku tak mungkin bu mencintai wanita”.

“Anakku, lihatlah dirimu, alangkah mulianya bila ada seorang yang mau menerimamu dengan segala kekurangan dan keterbatasan ini. Allah punya rencana lain nak”.

Tapi kenapa harus kepadaku rencana itu ditujukan. Tak adakah orang lain yang jauh melebihi segalanya di bandingkan aku yang serba tak punya apa-apa. Untuk mencari surg pun tiada pasti ku dapatkan. Aku tak punya daya untuk mendapatkan kunci surga atau pada saatnya pintu yang seharusnya ku lewati akan di ambil orang lain.Tak akan aku biarkan orang lain mengambil surgaku.Akan ku kirim ibu ke surga.

“Bu, jika ibu telah sampai ke sana aku ingin ibu menjaga surga untukku. Bantulah aku agar dapat menemuimu kembali. Hanya itu yang ku pinta bu”.

Sudah kukatakan mencari surga itu susah selain dari ibu. Seribu wanita pun tak mampu melebihi surga yang di berikan oleh ibu. Sebagai anak yang tahu diri aku tak ingin mencari surga untukku sendiri karena aku juga ingin mencarikan surga untuk ibu. Aku yakin jika ibu telah mendapat surganya, maka niscaya kita pula akan mendapatkan surga kita.

Ibu adalah simbol kelemahan.Tapi kelemahanya mampu melahirkan kekuatan terbesar yang akan menghancurkan kelemahan itu sendiri. Namun kelemahan itu adalah tanda surga Allah yang perlu kita capai. Kelemahan itulah yang akan menentukan siapa kita. Dalam kelemahan itu tersimpan kebahagiaan kita atau pula kecelakaan kita. IBU adalah Kelemahan yang wajib kita jaga agar tercapai surga untuknya dan kepada kita pula.

Penulis adalah mahasiswa STIE Cendekia, alumni SMA Al-Abror Sukosewu.
http://blokbojonegoro.com/read/article/20140406/mencari-surga-untuk-ibu.html

Advertisements

Author:

Cah Jonegoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s